Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Life Style 

Lukisan Wayang Beber Tetap Lestari, Meski Pementasan Sudah Punah
Rabu, 26-04-2017 | 09:32 wib
Oleh : Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com, Meskipun wayang beber sudah tidak pernah dimainkan lagi oleh para seniman wayang, namun bagi Nono Mardiono (53) tidak menyurutkan untuk terus memeliharanya dengan membuat lukisan wayang beber.

Sejak tahun 1976, Nono Mardiono mulai menekuni untuk membuat wayang beber. Di gerai yang bertempat di Kelurahan Guyangan Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, Nono dan putranya menciptakan lukisan bermotif wayang.

Disebut wayang beber karena teknik pertunjukannya dengan membeber atau menggelar gambar-gambar pada gulungan kertas atau kain, dan saat memainkan , dalang membelakangi penonton sambil menceritakan dan menunjuk satu persatu tokoh wayang.

Pembuatan dimulai dengan membentangkan sebuah kain putih dengan ukuran 2 x 1 meter. Sebelum melukis, Nono terlebih dulu melapisi kain dengan dempol warna putih, untuk mempertebal kain dan lebih mudah pada sketsa gambar.

Kepiawaian Nono tak diragukan lagi, tanpa melihat contoh gambar tokoh pewayangan, ia langsung membuat sketsa dengan menggunakan pensil.

Usai sketsa terbentuk, dengan dibantu Jarot, anak Nono, mulai melukis di dasar media kain tersebut dengan sebuah cat kain. Keseriusan nampak pada wajah bapak dua anak ini. Selang satu jam kemudian, lukisan wayang beber selesai dibuat dan siap untuk dipasarkan.

Tidak hanya itu, Nono juga pandai dalam memainkan pementasan wayang beber.

Hasil lukisan bapak dan anak ini juga mampu dipasarkan di luar Jawa, seperti Bali, Jakarta , Yogyakarta, dan Kalimantan.

Untuk harga, ia patok dari Rp 300 ribu hingga Rp 5 juta per lukisan, disesuaikan dengan ukuran kain dan kesulitan gambar.

Dalam sehari penjualannya tidak menentu, bahkan dalam satu bulan pun wayang beber sulit dipsarkan. Hal itu dikarenakan minat dari masyarakat akan sadar budaya masih menurun.

Meskipun begitu, Nono mengaku, bangga bisa memelihara budaya Jawa, dalam bentuk lukisan, sebab ia bangga bisa mengenalkan budaya leluhurnya kepada masyrakat luas, baik di Indonesia maupun luar negeri. Meskipun pementasan wayang beber sendiri sudah punah.

Sementara wayang beber sendiri merupakan salah satu jenis wayang tertua dari sekitar 20-an jenis wayang dalam kebudayaan Indonesia. Wayang beber berkembang di Jawa Timur sejak permulaan abad ke-15 hingga kini dengan keadaan yang memprihatinkan karena nyaris punah tergerus 

Berita Terkait


Lukisan Wayang Beber Tetap Lestari, Meski Pementasan Sudah Punah

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber