Berita Terbaru :
Tahun Ajaran Baru Akan Berlangsung Secara Virtual
Pemkab Akan Rapid Tes Seluruh Santri Gontor
Pasar Lumbung Pangan Target Menjangkau Ke 28 Kabupaten Kota di Jatim
Wakapolda Cek Perkembangan Covid 19 di Ponpes Gontor
Selama 14 Hari Terakhir Angka Kesembuhan Mencapai 2.150
JTV Mendapatkan Penghargaan dari KPID
Tukang Sopir Dealer Meninggal Secara Mendadak Di Kamar Mandi
Lagi, Ponorogo Tambah 11 Kasus Covid 19
Makin Banyak Peserta UTBK Reaktif
Nasib Kader Pemantau Pasien Covid-19 Belum Terima Intensif 4 Bulan
Dituduh Hina Pengusaha, Bupati Lumajang Diperiksa Cyber Crime Polda Jatim
Kokohkan Ekonomi di Pandemi Covid, TNI, Polri Bangun Program Ketahanan Pangan
Satlantas Polresta Mojokerto Amankan Ratusan Motor Sport Dan Musnahkan Knalpot Brong
Penyaluran BLT DD Tunggu Bansos Pangan Kemensos Berakhir
Geram Dengan Ulah Nitizen, Idi Laporkan 5 Akun Media Sosial
   

Ini Alasan Harga Kopi Melambung
Ekonomi Dan Bisnis  Minggu, 13-11-2016 | 07:30 wib
Reporter :
Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com
Surabaya pojokpitu.com, Harga kopi jenis robusta di pasar domestik terkerek naik. Hal ini dipicu tingginya permintaan, sementara pasokan berkurang.

Saat awal panen Juli lalu, harga kopi robusta olah basah Rp 25.000 per kg.

Kini harganya sudah bertengger di Rp 35.000 per kg.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jawa Timur Bambang Sriono menyatakan, kenaikan harga disebabkan penurunan produksi tahun ini.

Anomali cuaca membuat produksi menurun 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada kondisi normal, produktivitas robusta mencapai 800 kg per hektare.

Permintaan kopi robusta di pasar lokal terus meningkat. Bahkan, tahun ini kenaikan permintaan mencapai 20 persen.

Sebab, konsumsi kopi kini menjadi gaya hidup. Hal itu ditandai dengan maraknya warung kopi, kafe, maupun retail yang menjual kopi siap saji.

Bambang mengakui, pasar lokal kini jauh lebih menjanjikan daripada ekspor.

Namun demikian, masih tetap ada petani kopi yang berorientasi ekspor meski harus melalui mitra dagang.

"Sedikit yang bisa langsung masuk ke negara tujuan," tuturnya.

Harga kopi arabika juga tidak kalah menjanjikan, yakni Rp 75.000-Rp 90.000 per kg.

Karena itu, pengembangan perkebunan kopi di dataran tinggi mendatang mengarah ke arabika dengan teknik rejuvinasi atau peremajaan.

Lahan yang sesuai untuk pengembangan arabika adalah Bondowoso, Jember, Pasuruan, dan Kabupaten Malang.

Di Bondowoso, pemerintah berencana mengembangkan 100 hektare perkebunan kopi secara bertahap dalam jangka waktu sepuluh tahun.

Selain itu, Jember akan membuka perkebunan seluas 250 hektare. (res/c15/noe/sam/jpnn/pul)


Berita Terkait

Kopi Sarangan, Aroma Pisang Terasa Cokelat

Dijual Secara Online, Kopi Super Tembus Rp 300 Ribu Perkilogram

Ini Alasan Harga Kopi Melambung
Berita Terpopuler
Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Malang Raya  6 jam

Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Rehat  7 jam

Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Peristiwa  6 jam

Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Kesehatan  6 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber