Berita Terbaru :
Janda Mucikari Jual Anak Bau Kencur Tarif Rp 800 Ribu
Bocah Diduga Disunat Makhluk Halus Gemparkan Warga Tuban
Hasil Swab, 19 Pegawai Dispendukcapil Positif Virus Corona
Siswa Tuna Netra Kelas 1 SLB Ikut Lomba Hafalan Alquran Tingkat Asia
PKB Rekom Gus Ipul Maju Pilwali Kota Pasuruan
Direktur Pasca Sarjana UINSA Melapor Dianiaya Teman Sejawat
Tabrak Dump Truk Parkir, Seorang Pengendara Tewas di Mojokerto
Dua Bakal Calon Bupati Sidoarjo Masih Menunggu Rekom DPP PDIP
Polda Jatim Gelar Lomba Dalmas Sabhara dan Wanteror Brimob
Sholawat Lita Machfud berkumandang di Kampung Surabaya
Sangat Penting Mencegah Konflik Dengan Teman
Satgas Covid Sidoarjo Gelar Razia Masker di Pasar Taman
KPU Sumenep Umumkan Pendaftaran Cabup dan Cawabup Segera Dibuka September
Gas Lpg 3 Kilogram di Magetan Mulai Sulit Didapat
Tercatat, Ratusan Hektar Sawah di Kabupaten Madiun Rusak Diserang Hama Wereng
   

Ini Alasan Harga Kopi Melambung
Ekonomi Dan Bisnis  Minggu, 13-11-2016 | 07:30 wib
Reporter :
Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com
Surabaya pojokpitu.com, Harga kopi jenis robusta di pasar domestik terkerek naik. Hal ini dipicu tingginya permintaan, sementara pasokan berkurang.

Saat awal panen Juli lalu, harga kopi robusta olah basah Rp 25.000 per kg.

Kini harganya sudah bertengger di Rp 35.000 per kg.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jawa Timur Bambang Sriono menyatakan, kenaikan harga disebabkan penurunan produksi tahun ini.

Anomali cuaca membuat produksi menurun 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada kondisi normal, produktivitas robusta mencapai 800 kg per hektare.

Permintaan kopi robusta di pasar lokal terus meningkat. Bahkan, tahun ini kenaikan permintaan mencapai 20 persen.

Sebab, konsumsi kopi kini menjadi gaya hidup. Hal itu ditandai dengan maraknya warung kopi, kafe, maupun retail yang menjual kopi siap saji.

Bambang mengakui, pasar lokal kini jauh lebih menjanjikan daripada ekspor.

Namun demikian, masih tetap ada petani kopi yang berorientasi ekspor meski harus melalui mitra dagang.

"Sedikit yang bisa langsung masuk ke negara tujuan," tuturnya.

Harga kopi arabika juga tidak kalah menjanjikan, yakni Rp 75.000-Rp 90.000 per kg.

Karena itu, pengembangan perkebunan kopi di dataran tinggi mendatang mengarah ke arabika dengan teknik rejuvinasi atau peremajaan.

Lahan yang sesuai untuk pengembangan arabika adalah Bondowoso, Jember, Pasuruan, dan Kabupaten Malang.

Di Bondowoso, pemerintah berencana mengembangkan 100 hektare perkebunan kopi secara bertahap dalam jangka waktu sepuluh tahun.

Selain itu, Jember akan membuka perkebunan seluas 250 hektare. (res/c15/noe/sam/jpnn/pul)


Berita Terkait

Kopi Sarangan, Aroma Pisang Terasa Cokelat

Dijual Secara Online, Kopi Super Tembus Rp 300 Ribu Perkilogram

Ini Alasan Harga Kopi Melambung
Berita Terpopuler
Direktur Pasca Sarjana UINSA Melapor Dianiaya Teman Sejawat
Metropolis  2 jam

Lagi, Perawat Senior RS Delta Surya Meninggal Akibat Covid 19
Metropolis  12 jam

Punggung Naga, Jalur Ekstrim Menuju Puncak Piramid
Mlaku - Mlaku  13 jam

Hasil Swab, 19 Pegawai Dispendukcapil Positif Virus Corona
Covid-19  51 menit



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Awal September Subsidi Gaji Dari Pemerintah Cair 1,2 Juta
Jatim Awan

Lupa Mematikan Kompor, 1 Rumah di Bojonegoro Terbakar
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber