Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Rehat 

Berbagai pertunjukan Kreasi Seni Budaya ditampilkan dalam festival ini. Mulai dari kesenian tradisional reog kendang khas Tulungagung, yang dimainkan oleh anak anak sekolah dasar dan warga setempat. Foto Danu
Kreatifitas Pemuda Pinggiran, Perkenalkan Desanya Melalui Seni Budaya
Rabu, 02-11-2016 | 10:37 wib
Oleh : Agus Bondan, Muhammad Imron Danu
Tulungagung pojokpitu.com, Sebagai upaya untuk mengenalkan desanya yang terletak di pinggiran hutan, sekaligus sebagai bentuk apresiasi berkesenian, sekelompok pemuda desa di Tulungagung, menggelar festival seni budaya di tengah hutan. Pada festival ini, ditampilkan berbagai kreasi seni tradisional dari berbagai daerah.

Tidak seperti biasanya, kawasan Telaga Ngambal di Pegunungan Walikukun, Desa Winong Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, yang biasanya sepi mendadak ramai dan eksotis dengan kerlap kerlip cahaya obor di sekeliling telaga. Masyarakat desa setempat menggelar Festival Seni Budaya yang dinamakan Festival Walikukun. Lebih luar biasanya lagi, semua pantia pelaksana festival ini adalah pelajar pemuda setempat, yang masih berusia belasan tahun.

Berbagai pertunjukan Kreasi Seni Budaya ditampilkan dalam festival ini. Mulai dari kesenian tradisional reog kendang khas Tulungagung, yang dimainkan oleh anak anak sekolah dasar dan warga setempat. Hingga pertunjukan seni budaya tradisional yang hampir punah dari berbagai daerah. Diantaranya adalah pertunjukan unen unen rengel dari Tuban.

Unen-unen rengel ini menampilkan kreasi ongkek, yang dijadikan alat musik dan diklaim menjadi alat musik harpa pertamanya Indonesia. Ongkek sendiri sebenarnya bukan merupakan alat musik. Melainkan pikulan yang digunakan pedagang legen khas Tuban, untuk membawa dagangannya.

Di tangan kreatif Agus Iwodh, ongkek kemudian dikreasi menjadi sebuah alat musik petik, maupun gesek seperti biola. Selain ongkek, dimainkan juga sebuah alat musik tradisional rinding, yang biasa dimainkan petani jaman dulu, saat beristirahat di sawah. Frekuensi suara yang dihasilkan alat musik tiup dari bambu ini, juga di yakini mampu untuk mengusir hama wereng.

Menurut Septa Dede Prasetya penggagas festival, penamaan festival Walikukun  diambil dari nama pohon Walikukun yang dulu banyak tumbuh di kawasan hutan Desa Winong. Pohon Walikukun dipercaya berasal dari tongkat yang di tancapkan Sunan Kalijaga, salah seorang anggota Wali Songo, yang mensyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Pohon Walikukun juga sebagai simbol benteng syiar agama Islam oleh para wali kala itu.

Usai berbagai pertunjukan kesenian, kegiatan ditutup dengan acara nonton bareng, yang memutar  film karya anak jalanan Sanggar Siwi Surabaya, bertema penolakan eksploitasi  pekerja anak. (pul)

Berita Terkait


Tarian Reog Dijadikan Ujian Mata Pelajaran Seni Budaya

Kabupaten Ngawi Mengelar Seni Dan Budaya Di Gedung Cak Durasim Surabaya

Kreatifitas Pemuda Pinggiran, Perkenalkan Desanya Melalui Seni Budaya

Pameran Seni Budaya, Kegiatan Multi Manfaat untuk Pelajar Mengisi Liburan


Tujuh Seniman Mancanegara Ramaikan Pertunjukan Seni Budaya

Satu Tahun Jelang Pemilu, KPU Tulungagung Gelar Pagelaran Seni Budaya

Tingkatkan Angka Partisipasi, KPU Kota Pasuruan Gelar Sosialisasi Seni Budaya On The Street

Para Siswa SMP Tempuh Ujian Akhir Lewat Kegiatan Seni Budaya

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber