Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Dimas Kanjeng 

Ilsutrasi Uang. Foto pojokpitu.com
MUI : Gak Pernah Ada Sholawat Menggandakan Uang Itu
Jum'at, 07-10-2016 | 11:06
Oleh :
JAKARTA pojokpitu.com, Praktik penggandaan uang oleh Dimas Kanjeng Taat Pribari dinilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah aliran sesat.

MUI pun menyerukan seluruh umat tidak percaya dengan praktik yang mengatasnamakan syariat Islam.

"Tidak ada di dalam ajaran Islam menggandakan uang. Tidak ada juga dalam Islam, sholawat menggandakan uang," tegas Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan‎ Jumat (7/10).

Amirsyah menyebutkan, pihaknya mendapatkan informasi bila Dimas Kanjeng dan pengikutnya menggunakan Sholawat Fulus dalam prosesi penggandaan uang. Padahal, salawat tersebut tidak ada dalam syariat Islam.

"Tugas MUI melakukan pencerahan kepada orang yang tersesat imannya.‎ Kami menyerukan umat Islam yang masih tetap bertahan di Padepokan Dimas Kanjeng kembalilah ke jalan yang benar. Rasulullah mengajarkan, untuk mendapatkan uang banyak, kita harus bekerja keras. Bukan diam di pondok membaca shoawat fulus tanpa bekerja," bebernya. (esy/jpnn/pul)

Berita Terkait

27-04-2017 | 18:21
Sidang Pembunuhan Santri Dimas Kanjeng Hadirkan 5 Saksi
06-04-2017 | 15:55
Sidang Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Jaksa Hadirkan Saksi Memberatkan Terdakwa
23-03-2017 | 13:38
Hasil Putusan Sela Dimas Kanjeng, Ternyata Hakim Terima Dakwaan Jaksa
16-03-2017 | 12:24
Eksepsi Terdakwa Dimas Kanjeng Taat Pribadi Ditolak

15-03-2017 | 16:31
Jadi Saksi Karnawi, Dimas Kanjeng Datangi PN Surabaya
23-02-2017 | 14:10
Vijay Didakwa Pasal Penipuan Kasus Dimas Kanjeng
16-02-2017 | 12:16
Dimas Kanjeng Taat Pribadi Terancam Hukuman Mati
16-02-2017 | 12:01
Ratusan Santri Hadiri Sidang Perdana Taat Pribadi

Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber