Berita Terbaru :
Dituduh Hina Pengusaha, Bupati Lumajang Diperiksa Cyber Crime Polda Jatim
Kokohkan Ekonomi di Pandemi Covid, TNI, Polri Bangun Program Ketahanan Pangan
Satlantas Polresta Mojokerto Amankan Ratusan Motor Sport Dan Musnahkan Knalpot Brong
Penyaluran BLT DD Tunggu Bansos Pangan Kemensos Berakhir
Geram Dengan Ulah Nitizen, Idi Laporkan 5 Akun Media Sosial
Pemilik Mobil Misterius Merupakan Residivis Pengedar Narkoba
Ingin Memulangkan Kedua Orang Tua ke Papua, Anak Nekat Rampas Ponsel
Kejari Kota Musnahkan Barang Bukti Narkotika
Residivis Jambret Babak Belur Dimassa
Tiga Pelaku Jambret Diringkus Tim Buser Polresta Banyuwangi
Hearing Komisi D, DPRD Ingatkan Pembangunan Fisik 2020 Harus Sesuai Dengan Perencanaan
Polisi Jemput Paksa Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Lahan Mantingan
Ancam Akan Dibunuh, Bapak Bejat Cabuli Anak Kandung Selama 3 Tahun
KPU Sumenep Hanya Mendapat Alokasi Tambahan Anggaran 3,4 M
Seluruh ASN Kantor BKPP Ngawi Jalani Isolasi Mandiri
   

Pengabaian Sejarah : Sebuah Pengkhianatan Pembangunan Bangsa
Opini  Rabu, 01-06-2016 | 16:04 wib
Reporter : Bagus Priyono
Surabaya pojokpitu.com, Kota Surabaya ulang tahun ke-723. Usia yang semakin tua, harusnya bisa lebih memahami apa arti sejarah. Namun untuk ulang tahun kali ini, saya sebagai warga Surabaya merasa kecewa.

Kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ini, berulang tahun dalam reruntuhan sejarah yang terabaikan. Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar contohnya.

Dalam perkembangannya, Kota  Surabaya tengah berlari, dengan membawa sekian keberhasilan dan persoalan. 

Walikota Tri Rismaharini, sepanjang menjadi pemimpin di Surabaya, mendapat banyak penghargaan, mungkin orang mudah melupakan karena begitu banyak penghargaan itu. Bahkan mungkin orang tak bisa membedakan, penghargaan itu ditujukan untuk Surabaya atau kemahiran Risma mengendalikan kota tercinta ini. 

Peran media sangat mudah memoles persepsi bahwa penghargaan yang diterima Risma adalah bagian dari kebanggaan warga kota.

Tapi tidakkah itu membuat suntuk dan membosankan? 

Karenanya kita tak bisa memahami, kenapa di Taman Bungkul, sebuah taman kota yang dirusak kerumunan massa saat berebut makanan dan minuman, justru bisa memancing amarah Risma, daripada  runtuhnya sebuah rumah cagar budaya di Jalan Mawar, tempat dimana ungkapan kata-kata menjadi api yang membakar sebuah perang di Surabaya. 

Saya sangat pesimis, para pejabat di kota ini ingat bahwa saat itu Bung Tomo berpidato untuk para rakyat jelata yang tak bernama, bukan untuk para darah biru dan birokrat. Saya yakin, memori mereka tak sepanjang itu. Dan karenanya, tak ada yang sedih dan menangis ketika rumah di Jalan Mawar itu dihancurkan, dirobohkan hingga rata dengan tanah.

Tapi apa boleh buat. Catatan ini akan menjadi memori pendek bagi siapapun, dan akan dikenang sebagai keluhan yang tiada arti. Untuk itu demi kota yang selalu kita cintai ini, marilah kita berdoa, semoga tak ada lagi pengabaian sejarah.

Selamat ulang tahun, Surabaya!

Sesungguhnya pengabaian sejarah adalah pengkhianatan terbesar terhadap pembangunan bangsa!(end)


Berita Terkait

HUT Surabaya, Masyarakat Berziarah Ke Makam Bung Tomo dan Dokter Soetomo

Dengan Nasi Tumpeng, Walikota Surabaya Peringati Hari Jadi Surabaya Ke 722

Ribuan Pelajar Surabaya Ikut Semarakkan Hari Jadi Surabaya ke 726

Semaraknya Surabaya Vaganza Parade Bunga dan Budaya
Berita Terpopuler
Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Rehat  6 jam

Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Peristiwa  5 jam

Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Malang Raya  5 jam

Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Kesehatan  6 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber