Berita Terbaru :
Haji 2020 Dibatalkan, Pedagang Pusat Oleh-Oleh Haji dan Umroh Alami Kerugian Hingga 75 Persen
Cegah Klaster Baru, Ribuan Nelayan dan ABK Jalani Rapid Tes
Sehari, Jumlah Terkonfirmasi 25 Orang, Total Mencapai 116 Orang Positif Corona, Sembuh 75 Orang
Covid 19 Tinggi, Pemkot Tutup Pintu Masuk Surabaya
4 Hari Dioperasikan, RS Darurat Pemprov Jatim Telah Melayani 31 Orang
DPRD : Jika Tak Kondusif, Sunday Market Harus Ditutup Kembali
Tren Kesembuhan di Jatim Naik Cukup Signifikan
Dana Untuk RW Diminta Sekdes, Puluhan Pemuda Semalam Luruk Kantor Desa
Kisah Pilu Penjual Tempe, Distigma Negatif Akibat Data Rapid Tes Bocor
Terkendala Konversi Mata Uang, Calon Jemaah Dihimbau Tak Tarik Setoran di BPKH
Dewan Harap New Normal Kembali Geliatkan Perekonomian Masyarakat
Razia Masker, Petugas Temukan Pengendara Tak Memakai Masker
Jadwal Baru MotoGP 2020 Diharapkan Rampung Sebelum Akhir Juli
Dengan Protokol Ketat Santri Ponpes Zainal Hasan Genggong Kembali ke Pesantren
Karaoke Nekat Beroperasi Di Tengah Pendemi Covid-19, 7 Orang Diamankan
   

Musim Tanam Tiba, Petani Dihadapkan Dengan Harga Pupuk Yang Mahal
Mataraman  Minggu, 15-03-2015 | 17:53 wib
Reporter : Budi Setyono
Ngawi pojokpitu.com, Belum usai dengan permasalahan anjloknya harga gabah, kini para petani beberapa kecamatan di Kabupaten Ngawi dihadapkan pada mahalnya harga pupuk. Dimusim tanam sekarang ini, mereka sulit mendapatkan pupuk karena harga pupuk yang naik dan beberap jenis pupuk subsidi yang juga berkurang stoknya.

Lagi-lagi para petani harus dihadapkan pada situasi yang rumit. Saat panen beberapa hari lalu, mereka harus menelan pil pahit karena harga gabah yang anjlok harganya hingga 3.500 rupiah. Kini, saat masuk musim tanam, situasi rumit itu datang lagi, harga pupuk yang tidak sesuai harga pasar yang ditetapkan pemerintah.

Mahalnya harga pupuk ini sedang dialami oleh petani di Kecamatan Paron, Kedunggalar dan Geneng. Umumnya, pupuk yang diproduksi oleh Petrokimia seperti Urea, TSP, Phonska, ZA, SP-36 yang mengalami kenaikan harga. Bahkan untuk jenis TSP dan SP-36 malah tidak tersedia sesuai Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) Tani yang telah ditetapkan.

"Harga pupuk saat ini mencapai harga 125 ribu rupiah per sak. Ini harga yang sangat tinggi karena tidak sesuai dengan het," kata Marmin, salah satu petani. Menurutnya, harga ini sangat mahal. peteni mulai resah jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan karena saat musim tanam sudah tiba.

Sementara itu, menurut Sukadi (petani), pihak Petrokimia sepertinya lengah dalam pengawasan. "Petrokimia wilayah Ngawi tidak tau masalah pupuk yang harganya tidak sesuai het. Mereka sepertinya melakukan pembiaran terhadap kios-kios nakal yang ingin mengambil untung besar," ujar Sukadi.(ern)




Berita Terkait

Pupuk Subsidi Langka di Tengah Pandemi Corona

Operasional IPLT Ngawi Tunggu Payung Hukum

Pemkab Ngawi Ajukan Penambahan Alokasi Pupuk Bersubsidi

Polda Jatim masih Uji Bahan Utama Jamu Kuat Illegal
Berita Terpopuler
Sedikitnya 3 Wisata Kota Batu Akan Dibuka
Mlaku - Mlaku  13 jam

Belajar di Rumah Hingga Batas Waktu Tak Tertentu
Pendidikan  10 jam

Karaoke Nekat Beroperasi Di Tengah Pendemi Covid-19, 7 Orang Diamankan
Peristiwa  9 jam

Dana Untuk RW Diminta Sekdes, Puluhan Pemuda Semalam Luruk Kantor Desa
Peristiwa  3 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber