Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

PENULIS: NANANG PURWONO Wakil Pimpinan Redaksi JTV / Penulis buku
Hilangnya Tetenger Spirit Kepahlawanan Kota Pahlawan
Senin, 09-05-2016 | 15:27
Oleh : NANANG PURWONO
Surabaya pojokpitu.com, Aha..tiba saatnya bulan Mei, bulan yang ditunggu-tunggu warga kota Surabaya. Beragam gebyar dan gemerlap terjadwal mewarnai dan meramaikan bulan yang tercatat sebagai bulan lahirnya kota Surabaya. Tepatnya pada 31 Mei. Tahun ini, 2016, kota Surabaya genap berusia 723 tahun. Ini terhitung sejak 31 Mei 1293.

Di bulan Mei tahun ini (2016), warga kota Surabaya hendaknya merasa prihatin dan tidak larut gembira dalam gebyar serangkaian kegiatan Hari Jadi, yang sudah teragendakan sejak tahun lalu. Mulai dari Surabaya Shopping Festival, Festival Rujak Ulek, Parade Budaya, Pemilihan Cak dan Ning, hingga gelegar panggung hiburan di malam puncak peringatan HUT Kota Surabaya.

Warga kota Surabaya serta segenap pemangku kota harus turut prihatin dengan peristiwa pembongkaran rumah cagar budaya, yang sangat bersejarah bagi arek-arek Suroboyo. Yakni rumah, yang dijadikan stasiun radio perjuangan oleh Bung Tomo di masa perang kemerdekaan pada November 1945. Rumah itu tidak lain adalah rumah kuno di jalan Mawar 10 - 12 Surabaya. Melalui radio pemancar dari rumah di jalan Mawar 10, Bung Tomo pernah membakar semangat perjuangan arek-arek Suroboyo untuk melawan serdadu Sekutu.

Konon pembongkaran itu berlangsung selama kurang lebih satu bulan dan berhasil dihentikan pada awal bulan Mei 2016. Tepatnya pada 3 Mei 2016, ketika terkuak kabar pembongkaran rumah bersejarah, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh pemilik rumah kecantikan Jayanata. Meski hanya sehari, viral kabar pembongkaran menjadikan pemerintah kota Surabaya segera melakukan penyegelan (4 Mei 2016) untuk menghentikan segala bentuk kegiatan di lahan bekas rumah radio perjuangan Bung Tomo itu.

Lantas apa kaitan Hari Jadi Kota Surabaya (31 Mei 1293) dan Peristiwa Kepahlawanan 10 November 1945 dengan Bung Tomo yang dianggap sebagai tokoh penggerak dan pembakar semangat arek arek Suroboyo untuk menghadapi serdadu penjajah?

Berdasarkan buku  "HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 Tahun Sura ing Baya" (Pemerintah Kotamadya Dati II Surabaya, 1975) yang mengulas tentang penentuan Hari Jadi Kota Surabaya, dijelaskan bahwa peristiwa kepahlawanan Raden Wijaya ketika berhasil mengusir bangsa penjajah Tartar pada 31 Mei 1293 dianggap sebagai peristiwa besar dan penting yang menginspirasi terjadinya serangkaian peristiwa kepahlawanan pada masa-masa berikutnya, termasuk peristiwa 10 November 1945. Jadi esensi peringatan HUT Kota Surabaya sesungguhnya mengandung nilai-nilai kepahlawanan dan patriotisme yang patut diwarisi.

Dan.. Bung Tomo serta pejuang-pejuang Surabaya kala itu (1945) benar benar mewarisinya. Sejarah pun mencatat bahwa mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi kedaulatan bangsa. Pecah perang 10 November 1945 adalah panggung ekspresi heroik arek-arek Suroboyo yang dipertontonkan dengan sangat tanpa pamrih. Bahkan mereka tidak butuh penghargaan. 
Dan.. Bung Tomo telah menunjukkan itu! Sebelum beliau meninggal, beliau sempat berpesan jika ia wafat, ia minta untuk tidak dimakamkan di taman makam pahlawan. Akhirnya Bung Tomo pun dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Surabaya. Ia tetap bersama rakyat, tanpa pangkat dan tanpa jabatan.

Dan.. untuk menghargai Bung Tomo, ruas jalan yang melintas di depan makam, yang dulunya bernama jalan Ngagel Jaya Selatan, lalu diubah menjadi jalan Bung Tomo. Bagi generasi yang peduli sejarah, ternyata penamaan itu tidak lah cukup. Maka, stadion baru yang besar dan megah, yang dibangun di kawasan Surabaya Barat, dinamakan Gelora Bung Tomo. Bung Tomo, yang telah tiada, sungguh tidak bisa menampik penghargaan yang diberikan oleh generasi penerusnya, yang masih menghargai sejarah. JASS MERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Bung Karno).

BELAJAR DARI PERISTIWA MAWAR 10
Sangatlah ironis bila rumah radio perjuangan Bung Tomo, yang dijadikan tetenger spirit kepahlawanan dan jasa-jasa Bung Tomo, dilenyapkan begitu saja oleh pemiliknya. Dirobohkan, dibongkar. Dari peristiwa ini, di bulan Mei ini, di saat kita hendak beruforia memperingati hari jadi kota Surabaya, yang sarat dengan nilai kepahlawanan, kita hendaknya lebih mawas diri dan merenung mengapa peristiwa konyol ini bisa terjadi. Tentu, kita patut merasa malu dan sekaligus marah atas peristiwa itu.

Kita berharap, di bulan Mei ini, peristiwa pembongakan rumah cagar budaya, yang sangat bersejarah di jalan Mawar 10 - 12 Surabaya ini, menjadi pelajaran bagi semua pihak. Karenanya, peristiwa ini harus yang KALI TERAKHIR di Surabaya.  Peristiwa ini tidak boleh terjadi lagi di masa mendatang. Sudah cukup peristiwa seperti ini terjadi di Surabaya. Maka, apa yang bisa kita pelajari dan tentunya kelak harus kita lakukan setelah memahami esensi pelajaran itu.

Sekedar pengingat. Surabaya ini adalah kota pahlawan. Surabaya juga kota bersejarah, yang dilihat dari sisi sejarah peradaban manusia dan sejarah perkembangan kota. Banyak peninggalan peradaban manusia di kota ini, dari lintas generasi, dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pendidikan, penelitian dan ilmu pengetahuan.  Bahkan tak sedikit peneliti lokal maupun manca negara yang terkagum dengan eksotisme kota Surabaya. Sebut saja peneliti dari International Council of Monuments and Museums (ICOMOS) dan The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Bahkan pada bulan July 2016 mendatang, Surabaya juga akan kedatangan tamu internasional UN Habitat sebanyak 5000 orang. Jalan Tunjungan pun dipercantik untuk menyambutnya.

Maka, untuk memperbaiki mekanisme pelestarian bangunan cagar budaya, yang dianggap kurang selama ini, yang akhirnya berujung pada hilangnya BCB yang sangat bersejarah bagi warga Surabaya, pemerintah kota Surabaya harus menyiapkan tim (bisa saja tim cagar budaya) yang secara berkala dan terus menerus melakukan pengawasan terhadap semua BCB sebagai mana tercatat dalam SK Walikota. Dengan demikian setiap BCB dapat terpantau dengan baik. Potensi terhadap kerusakan dan hilangnya BCB dapat segera diketahui.

Upaya tersebut di atas tentunya harus dibarengi dengan kebijakan anggaran yang pro-sejarah dan pro-cagar budaya. Selama ini tidak ada kebijakan anggaran pro-sejarah dan pro-cagar budaya. Padahal Surabaya ini kota Pahlawan, kota bersejarah, yang layak menjadi jujugan berbagai pihak baik untuk rekreasi maupun untuk tujuan pendidikan, penelitian dan pengetahuan. Tentu saja penganggaran harus selektif dan terklasifikasi. Bisa saja prioritas utama adalah BCB yang dinilai memiliki nilai heroik dan historikal tinggi seperti rumah HOS Cokroaminoto yang pernah ditempati Bung Karno.

Mengingat tidak semua aset BCB, apalagi yang bernilai sejarah tinggi, adalah milik pemerintah. Maka pemerintah harus berupaya untuk bisa memiliki BCB dengan kategori tersebut. Upaya ini semata-mata untuk mengamankan aset dan kelestarian nilai-nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Dengan kata lain secara umum bahwa pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya bersama Tim Cagar Budaya-nya diharapkan tidak hanya mampu menetapkan bangunan-bangunan sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Tapi mereka juga harus mampu membuat skema pendukung pelestarian baik berupa beaya perawatan dan pemeliharaan serta keringanan berbagai pajak (PBB). Ketentuan ini tentunya harus memiliki cantolan hukum yang kuat karena perda cagar budaya yang berlaku saat ini dinilai kurang (tidak) aplikatif dan aspiratif.

Nah, bagi pelaku yang terbukti melakukan penghancuran BCB, maka ia wajib dibawa ke ranah hukum dan diproses menurut ketentuan UU no 11 tahun 2010 dan Perda no 5 tahun 2005 terkait pelestarian bangunan dan lingkungan cagar budaya. Sedangkan bagi dinas terkait, baik itu Disbudpar ataupun Dinas Cipta Karta dan Tata Ruang (DCKTR), yang terbukti menjalin kolusi di balik hilangnya BCB, maka mereka juga pantas dibawa ke ranah hukum untuk mempertanggung jawabkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari pemerintah kota Surabaya. Demikian mengutip Vinsensius Awey, anggota Komisi C, DPRD Surabaya.

Tentu masih banyak lagi hal-hal lain, yang perlu dirumuskan untuk memperbaiki mekanisme pelestarian bangunan cagar budaya di kota Surabaya. Semua upaya ini akan lebih terarah dan efektif bila ada cantolan yang menjadi muara upaya pelestarian bangunan cagar budaya di Surabaya. Misal, cantolan itu adalah  "Surabaya kota pahlawan dan kota sejarah". Maka segala macam kegiatan, seperti yang dibahas di atas, akan tersemangati untuk mendukung  dan mengacu pada penguatan makna "Surabaya Kota Pahlawan dan Kota Sejarah".

Berita Terkait

13-10-2015 | 09:16
Penanangan Kasus Pasir Ilegal di Kepolisian Masih Dangkal


Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua

Facebook





Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber