Berita Terbaru :
Lagi, Ponorogo Tambah 11 Kasus Covid 19
Makin Banyak Peserta UTBK Reaktif
Nasib Kader Pemantau Pasien Covid-19 Belum Terima Intensif 4 Bulan
Dituduh Hina Pengusaha, Bupati Lumajang Diperiksa Cyber Crime Polda Jatim
Kokohkan Ekonomi di Pandemi Covid, TNI, Polri Bangun Program Ketahanan Pangan
Satlantas Polresta Mojokerto Amankan Ratusan Motor Sport Dan Musnahkan Knalpot Brong
Penyaluran BLT DD Tunggu Bansos Pangan Kemensos Berakhir
Geram Dengan Ulah Nitizen, Idi Laporkan 5 Akun Media Sosial
Pemilik Mobil Misterius Merupakan Residivis Pengedar Narkoba
Ingin Memulangkan Kedua Orang Tua ke Papua, Anak Nekat Rampas Ponsel
Kejari Kota Musnahkan Barang Bukti Narkotika
Residivis Jambret Babak Belur Dimassa
Tiga Pelaku Jambret Diringkus Tim Buser Polresta Banyuwangi
Hearing Komisi D, DPRD Ingatkan Pembangunan Fisik 2020 Harus Sesuai Dengan Perencanaan
Polisi Jemput Paksa Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Lahan Mantingan
   

Antara Kelompok Abu Sayyaf dan Bisnis Penculikan
Opini  Rabu, 30-03-2016 | 11:27 wib
Reporter : Kardono Setyorakhmadi (Wartawan Jawa Pos)
Ilustrasi
Jakarta pojokpitu.com, SALAH satu pengalaman tak terlupakan dalam semua liputan saya adalah pergi ke Zamboanga, Mindanao, Filipina Selatan, 2007.

Saat itu lebih dari sebulan saya menelusuri kamp-kamp pelatihan teroris di Fi- lipina Selatan Diterima baik oleh Moro Islamic Liberation Front (MILF), namun berbeda ketika masuk di Zamboanga. Kota yang dikuasai kelompok Abu Sayyaf.

Suasana aneh langsung terasa begitu kaki menginjak Port of Zamboanga, pelabuhan kecil di kota tersebut. Naik angkot, semua langsung turun sambil melihat saya dengan pandangan menyelidik.

Dua orang di antara mereka langsung menelepon sembari tetap memandangi saya. Risi juga. Untung, dua gerilyawan MILF yang selalu menemani saya ke mana pun bisa menetralisasi suasana.

Tidak mendapat apa-apa (karena permintaan saya untuk mewawancarai pimpinan kelompok itu tidak ditanggapi), saya memutuskan pergi keesokan harinya.

Saya cukup beruntung karena dari rekam jejaknya, kelompok tersebut pada 2000-2007 telah menculik 20 jurnalis dengan motif tebusan.

Terjebak di antara kesulitan dana operasi (sulitnya funding dari luar negeri) dan makin beratnya me- rampok, kelompok itu memilih penculikan sebagai sumber pendapatan baru. Sasaran mudah, kerja tak terlalu repot karena sasaran bisa random siapa saja, dan hasilnya besar.

Nama Abu Sayyaf memang lekat dengan kekerasan. Didirikan Abdurajik Abubakar Janjalani pada 1991, kelompok tersebut terkenal dengan serangkaian penculikan dan terornya.

Mindanao memang bagaikan rimba. Senjata dijual dengan bebas (saat ke sana, saya ditawari pistol Glock dengan dua magasin yang hanya dibanderol Rp 2 juta dan M-16 yang hanya Rp 8 juta), kawasan yang tak sepenuhnya dikontrol baik oleh polisi maupun tentara, iklim politik yang ruwet, serta menjamurnya kelompok militan bersenjata.

Sebagai ilustrasi, jika di Indonesia spanduk-spanduk kamtibmas berbunyi: "Awas curanmor, beri kunci ganda" di Mindanao tidak demikian. Isinya lebih keras: "Stop Kidnapping" Hentikan penculikan. Artinya, penculikan di Filipina Selatan mungkin setara dengan curas ranmor.

Orang sering meremehkan bahaya, kecuali jika bahaya itu sudah menimpa mereka. Persis seperti itu reaksi kita terkait dengan pembajakan dua kapal berbendara Indonesia dengan 10 krunya yang dibajak kelompok Abu Sayyaf.

Dari data yang dilansir Komite Counter-Terrorism DK PBB, total ada USD 120 juta (Rp 1,5 triliun) yang dikeluarkan untuk membayar tebusan penculikan kelompok teror. Itu terjadi dalam empat tahun terakhir dan komite tersebut menyebut angkanya sangat "moderat" Artinya, banyak kasus penculikan yang belum tercatat.

Pemerintah begitu reaksioner dengan mengabarkan sejumlah opsi operasi militer, lengkap dengan sejumlah pasukan khusus yang akan diterjunkan. Langkah tersebut memang baik.

Tapi, itu hanya seperti suntikan penenang demam. Juga, membahayakan sandera (jika Anda seorang penyandera dan tahu bahwa negara orang yang disandera sedang menyiapkan operasi militer besar, apa yang dilakukan? Apakah kemudian takut dan sukarela menyerahkan sanderanya?).

Sudah seharusnya pemerintah lebih menyadari bahaya fenomena penculikan kelompok teror itu dan kemudian mengajak Malaysia dan Filipina untuk bertemu. Berunding untuk melakukan operasi bersama guna mereduksi potensi tersebut hingga sekecil-kecilnya.

Tidak sekadar menggelar operasi militer besar-besaran yang belum tentu membuat semua sandera selamat. Penculikan disertai terorisme bukan hal yang bisa dihilangkan dalam semalam saja. (jpnn/pul)


Berita Terkait

Ini Alasan PKL Kapasari Sandera Truk Satpol PP

Alhamdullilah, Tiga WNI Sandera Abu Sayyaf Dibebaskan

Pasukan Elite TNI AL Siap Bebaskan Sandera Abu Sayyaf, KSAL : Tunggu Intruksi Panglima

Anggota DPR Minta Pemerintah Gelar Operasi Militer Bebaskan 3 WNI
Berita Terpopuler
Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Malang Raya  5 jam

Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Rehat  6 jam

Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Peristiwa  5 jam

Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Kesehatan  6 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber