Berita Terbaru :
Cendikiawan NU Dukung Kementan Kembangkan Antivirus Eucalyptus
Puluhan Peserta UTBK Rapid Test di Lokasi Ujian
Mo Salah Memang Berhati Mulia, Ini Sedekah Terbarunya setelah Liverpool Juara
Gempar,Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
46.334 Ribu Peserta UTBK Mulai Ujian Masuk PTN, Sempat Molor 15 Menit
Mendikbud Nadiem Ingin Kepsek dari Guru Penggerak, Indra Merasa Heran
Blitar Diguncang Gempa 5.3 Skala Richter
Konvesi PSI: Bacalon Wali Kota Surabaya Berdebat Seru soal Pasar Turi hingga PHK Massal
BPCB Jatim Mulai Uji Coba Eskavasi Situs Kumitir Jatirejo
Polisi Tangkap Pencuri Motor Lengkap Dengan 7 Hasil Curian
Inspektorat Terjunkan 4 Tim Kejar Kutu Dalam Program BPNT
Pasukan Garuda Indonesia Mampu Akhiri Peperangan Antar Suku di Kongo
Lima Bulan Terakhir Jumlah Penderita HIV/Aids Bojonegoro Mencapai 39 Orang
TMMD Tulungagung Terapkan Protokol Kesehatan Selama Masa Pandemi Covid-19
Inovasi Batako Berbahan Dasar Abu Sisa Pembakaran Sampah
   

Jatim Melawan Nyamuk Aedes Aegypti
Opini  Kamis, 04-02-2016 | 15:44 wib
Reporter : Bagus Priyono
Bagus Priyono, Koordinator Liputan JTV
pojokpitu.com, Siapa sangka nyamuk Aedes Aegypti bisa mengancam manusia, bahkan mematikan dalam jumlah puluhan hingga ratusan jiwa. Mulai 29 Januari 2016,Dinas Kesahatan Jatim mencatat angka penderita demam berdarah di 38 kabupaten/kota Jatim mencapai 1.402 penderita, dengan rincian 37 orang di meninggal dunia.

Memasuki musim hujan, penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti menjadi penyakit tahunan yang mematikan. Angka tersebut turun drastis dibandingkan pada Januari 2015, sebanyak 4.585 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 80 kasus.  
 
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jatim menetapkan 11 daerah di Jatim berstatus Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (KLB DBD) 2016.  Jumlah kasus DBD hingga 29 Januari 2016 tercatat 1.402 penderita dengan jumlah kematian sebanyak 37 kasus. Sebelas daerah KLB DBD 2016 adalah Banyuwangi, Kabupaten Probolinggo, Jombang, Kabupaten Kediri, Sumenep, Nganjuk, Trenggalek, Kabupaten Mojokerto, Pamekasan, Kabupaten dan Kota Madiun. 

Dinkes Jatim mengatakan, penetapan KLB DBD yang ditandatangani Gubernur Jatim, Soekarwo, itu sudah disampaikan ke masing-masing kepala daerah. Bahkan, Dinkes Jatim juga memasukkan lima kabupaten/kota di Jatim dalam kategori kawasan endemik penyakit  DBD selama Januari 2016. 

Kelima daerah endemik DBD 2016, antara lain Jombang, Sumenep, Jember, Banyuwangi, dan Kabupaten Malang. Sementara untuk daerah-daerah lainnya masih bersifat sporadis dan kasuistis. Kabupaten Jombang mendominasi jumlah penderita demam berdarah dengue terbanyak di Jatim. Data Pemerintah Kabupaten Jombang mencatat, masyarakat yang terkena kasus DBD berjumlah 139 penderita dengan 78 orang, di antaranya sedang dirawat di RSUD setempat dan delapan meninggal. Mayoritas penderita DBD yang meninggal adalah anak-anak berusia antara 5-15 tahun.

Di RSUD Dr Soetomo, terdapat dua pasien DBD yang meninggal selama Januari 2016, dengan 25 pasien yang dirawat intensif. Dua pasien tersebut juga termasuk pasien anak-anak. Dr Urip Murtedjo Spb. Kl, Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr Soetomo menjelaskan, mayoritas pasien DBD yang dirawat di RSUD Dr Soetomo datang dalam kondisi gawat, maupun pasien rujukan dari rumah sakit lainnya.

Urip Murtedjo menambahkan, setiap harinya ada tiga pasien yang dilarikan berdasarkan rujukan. Penyakit DBD bisa sembuh sendiri dengan waktu tujuh hari, jika diketahui sejak dini, namun masyarakat masih belum memahaminya.

Untuk mencegah adanya penyakit DBD, pemerintah mencanangkan program gerakan satu juta juru pemantau jentik yang artinya dalam setiap satu rumah, yang menjadi juru pemantau jentik adalah anggota keluarga itu sendiri.

Sementara  Dinas Kesehatan mengintensifkan sosialisasi ke media massa dalam rangka kewaspadaan dan pencegahan penyakit DBD. Dinkes minta masyarakat aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan tempat tinggalnya dengan kegiatan 3M Plus, menutup tempat penampungan, menguras tempat penampungan air minimal satu minggu sekali, mengubur atau memanfaatkan barang bekas, serta obat pembunuh jentik pada penampung air, dan semprot dengan obat pembunuh nyamuk pada tempat yang lembab, seperti fogging. 

Dinkes berharap masyarakat seharusnya memahami tentang DBD. Ciri penyakit ini pada anak balita, yaitu mendadak demam tinggi, bisa mencapai 105 derajat fahrenheit atau 40 derajat celcius. Ciri berikutnya adalah sakit di belakang mata, nyeri sendi, otot dan tulang, perdarahan ringan dari hidung atau gusi, terkadang disertai batuk dan pilek, tidak nafsu makan, mual dan muntah serta gatal pada telapak kaki.

Untuk itu, kenalilah gejala pahami cara penanganan lebih lanjut, terkait demam berdarah dengue.(end)


Berita Terkait

Jatim Melawan Nyamuk Aedes Aegypti
Berita Terpopuler
Gempar,Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
Peristiwa  2 jam

Tradisi Nyadar, Ritual Penghormatan Petani Garam Digelar di Tengah Pandemi Covi...selanjutnya
Life Style  17 jam

BMKG Instal Alat WRS Untuk Pemantauan Gempa Bumi atau Tsunami
Peristiwa  16 jam

Menkes Serahkan Santunan Rp 300 Juta Kepada Nakes Gugur Covid 19
Kesehatan  15 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber