Berita Terbaru :
Antisipasi Konflik, Bupati Lumajang Cek Jalan Tambang
Empat Rumah Ludes Terbakar Akibat Arus Pendek Listrik
Rekomendasi PKB di Pilkada 2020 Jatuh ke Keturunan Raja dan Sosok Kyai
Kasus Perceraian ASN Meningkat di Masa Pandemi
DPD PDIP Belum Terima Surat Rekom Terkait Pilwali Surabaya
Bawaslu Temukan Ratusan Penyelenggara Tak Netral Dalam Pilkada
Digunakan Tempat Prostitusi, Bangli Dibongkar
Curi Bawang Merah, Pelaku Dimassa dan Motor Dibakar
Ojek Tangguh Wajib Bawa 2 Masker
DPRD Provinsi Jatim Sidak PPDB SMAN 1 Bojonegoro
Sidoarjo Kembali Berlakuan Jam Malam Untuk Tekan Tingginya Penyebaran Covid 19
Diduga Bawa BBM, Sebuah Mobil Terbakar di Dekat SPBU Keting
Usai Tangani Pasien Covid 19, Puskesmas Ditutup
Jumlah Kasus Positif Korona Masih Tinggi, 3 Ruas Jalan Kembali Ditutup
Peserta UTBK SBMPTN Antri Rapid Test
   

Tradisi Jamas Merawat Pusaka pada 1 Suro
Tapal Kuda Dan Madura  Rabu, 14-10-2015 | 17:34 wib
Reporter : Syaiful Anwar
R.B Deni Fahrurrazi Suryoningprang, salah satu kolektor benda pusaka, warga Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep.
Sumenep pojokpitu.com, Beragam tradisi dilakukan oleh sejumlah masyarakat pada 1 Suro, atau bertepatan pada Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram, di Kabupaten Sumenep, terdapat kebiasaan yang dilakukan turun temurun oleh sejumlah masyarakat, yakni tradisi jamas merawat benda pusaka, seperti keris, dan golok. 1 Suro diyakini sebagai hari yang sangat baik untuk merawat benda pusaka.

Tradisi jamas atau merawat benda pusaka dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Sumenep setiap memasuki 1 Suro, atau bertepatan pada Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram. Seperti yang dilakukan oleh R.B Deni Fahrurrazi Suryoningprang, salah satu kolektor benda pusaka, warga Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep.
 
Merawat benda pusaka dilakukan dengan cara cukup sederhana, yaitu pada awal dengan memandikan pusaka  menggunakan kembang tujuh rupa, kemudian pusaka diasapi menggunakan kemenyan.  Terakhir, benda pusaka tersebut di bersihkan dengan diolesi minyak kelapa hijau, yang telah dicampur dengan bibit wewangian cendana dan melati.
 
Tradisi jamas ini  sengaja dilakukan oleh kolektor asal Ujung Timur Pulau Madura ini dan  merupakan tradisi turun temurun dalam memelihara dan menjaga benda pusaka koleksinya. Tidak hanya itu, 1 Muharram adalah hari yang diyakini sebagai hari yang sangat istimewa bagi para kolektor untuk melakukan perawatan terhadap benda koleksi pusaka miliknya.
 
Tradisi ruwatan dan perawatan benda pusaka, saat ini seperti seakan mulai ditinggalkan kalangan para kolektor pusaka, padahal pusaka seperti keris dan golok merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai magis yang diyakini memiliki hubungan erat dengan masyarakat lokal Madura, khususnya di Sumenep. (end/**)



Berita Terkait

Kesakralan Bulan Suro, Puluhan Warga Ikut Ruwat Sukerta

Peringati 1 Muharam, Warga Ponorogo Berebut Tumpeng Sedekah Bumi

Sambut Bulan Suro, Warga Berebut Dawet Tolak Balak

Muharrom, Berkah Bagi Penjamas Keris
Berita Terpopuler
Kembali Dibuka, Tempat Wisata di Blitar Terapkan Protokol Kesehatan
Mlaku - Mlaku  17 jam

Tugu Polisi Monumen Perjuangan Polri Karesidenan Besuki Akan Direnovasi
Tempo Doeloe  16 jam

Hama Ulat Mulai Serang Tanaman Jagung
Ekonomi Dan Bisnis  14 jam

Tahapan Relokasi Pedagang Ojokan Masih Lamban
Ekonomi Dan Bisnis  15 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber