Berita Terbaru :
Laka Lantas Operasi Patuh Semeru Meningkat
Jatim Belum Layak Lakukan Sekolah Tatap Muka
Pertumbuhan Ekonomi Minus, Kemenhub Beri Konsesi Terminal Logistik
Akademisi Arsitektur : Warna Biru Alun-Alun Magetan Bagian Dari Simbol Kekuasaan
Pasangan OK Segera Deklarasi Parpol Pengusung
Unik, UWK Malang Gelar Wisuda Secara Drive Thrue
Meski Harga Gabah Naik, Petani Tak Jual Semua Hasil Panennya
Mendagri Bilang Ada Kepala Daerah Yang Tidak Serius Tangani Covid-19
   

Menyambut 1 Suro Gelar Ritual Mandi Malam
Mlaku - Mlaku  Rabu, 14-10-2015 | 13:32 wib
Reporter : Budi Setyono
Mereka berbondong-bondong bertujuan berharap berkah juga mandi bersama di sebuah aliran sungai kecil. Foto Budi
Ngawi pojokpitu.com, Bulan suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakat juga disebut bulan yang sakral. Karena dianggap bulan yang suci.

Di lokasi hutan Alas Ketonggo tepatnya di Desa Brendil Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, menyambut datangnya satu Suro, ratusan masyarakat dari berbagai darerah memenuhi  hutan milik KPK Ngawi.

Mereka berbondong-bondong bertujuan berharap berkah juga mandi bersama di sebuah aliran sungai kecil. Tak hanya itu , laki-laki , perempuan dan anak-anak juga berkumpul berendam menjadi satu di aliran sungai. Atau istilahnya kali Tempok yang airnya keruh karena musim kemarau .

Setelah melakukan ritual mandi, kemudian melakukan ritual dengan bersemedi di lokasi makam Palenggahan Agung Srigati yang diyakini sebagai salah satu tokoh Babat Tanah Jawa. Yakni Raja Brawijaya V Majapahit. Ritual tak cukup satu hari, namun mereka lakukan hingga beberapa hari khususnya saat malam hari. Melalui ritual tersebut para pengunjung berharap agar mendapat keselamatan dan terlepas dari segala persoalan dalam hidup.

Menurut Mbah Parji Juru Kunci Alas Ketonggo, tradisi ngalap berkah ini berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa ritual diantaranya keramas di Sungai Ketonggo, kemudian ritual di Pendopo Utama Srigati  dan terakhir semedi di batu besar tugu emas.

"Esensi tradisi di bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada," kata Mbah Parji. (pul/**)



Berita Terkait

Selama Giat Suro Dilarang Libatkan Massa Dari Luar Kota

Untuk Sementara Grebek Suro Ponorogo Ditiadakan

Aksi Teaterikal Arek Suroboyo Sobek Bendera Diharapkan Pacu Semangat Generasi Muda

Tradisi Bulan Suro, Warga Berebut Hasil Pertanian
Berita Terpopuler
Pasangan OK Segera Deklarasi Parpol Pengusung
Pilkada  10 jam

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Kemenhub Beri Konsesi Terminal Logistik
Ekonomi Dan Bisnis  6 jam

Meski Harga Gabah Naik, Petani Tak Jual Semua Hasil Panennya
Ekonomi Dan Bisnis  12 jam

Akademisi Arsitektur : Warna Biru Alun-Alun Magetan Bagian Dari Simbol Kekuasaan...selanjutnya
Life Style  8 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber