Berita Terbaru :
Tak Mampu Beli Kuota Internet, Siswa Belajar Menggunakan HT
Unik, Emak-Emak Duta Masker Polres Blitar Sosialisasikan Bermasker ke Pasar
Dispertan Ngawi Sarankan Petani Alih Tanam Palawija
Timnas Senior dan Timnas U-19 Berharap Tuah Sidoarjo
Rumput Lama Stadion GBT Sudah Mulai Dikupas
Warga Perumahan Sedati Permai Meninggal Mendadak di Dalam Rumah
Sarbusmi Tuntut Pemprov Jatim Kawal Tindakan PHK Sepihak
Pelanggar Dihukum Baca Pancasila dan Menyapu Pasar
Sakit Hati Diputus Cinta, Pria ini Culik dan Sekap Mantan Pacar
Aniaya Dokter Banyuwangi, Tiga Oknum Ormas Diringkus
PDIP Juga Belum Umumkan 5 Calon Daerah di Jatim
BPK Jawa Timur Menang Gugatan Tingkat Pertama di PN Malang
Ini Pentingnya Ikut Permainan Tradisional Untuk Anak
Dituding Dukun Santet, Pria Dibunuh Dengan Raket Nyamuk
Ini Alasan PDIP Belum Umumkan Bacalon Walikota Surabaya
   

Kakek Jompo Tulungagung Tinggal di Gubuk Tak Layak Huni
Sorot  Sabtu, 08-08-2015 | 17:35 wib
Reporter : Agus Bondan, Muhammad Imron
Mbah Nyoto tinggal sebatang kara di gubuknya yang mirip kandang hewan. foto: bondan
pojokpitu.com, Meski sudah 70 tahun Indonesia merdeka, kemerdekaan tersebut tidak dirasakan seorang kakek di Tulungagung. Kakek jompo yang menderita lumpuh hidup sebatang kara dan tinggal di gubuk yang sangat tidak layak huni.

Sunyoto atau lebih akrab di sapa Mbah Nyoto (70), warga desa Pinggirsari kecamatan Ngantru kabupaten Tulungagung, selama bertahun-tahun tinggal di gubug reyot berukuran 1X 3 meter yang beratapkan anyaman rumbia dan beralaskan bambu dengan tikar anyaman dan bantal yang terbuat dari karung beras. Gubuk tersebut bagaikan kandang hewan ternak.
 
Selain kondisinya sangat memprihatinkan, kakek ini ternyata nyaris tidak tersentuh bantuan dari pemerintah setempat. Meski telah dijanjikan akan dibuatkan rumah layak huni, namun itu hanya janji yang sudah bertahun- tahun tidak pernah terealisasi.

Bahkan, selama dua tahun terakhir, bantuan dari pemerintah pusat untuk Mbah Nyoto juga tidak diterimanya. Dirinya hanya pernah menerima bantuan langsung tunai sebesar Rp 600  ribu, sedangkan bantuan yang lain tidak pernah didapatkannya.

Mbah Nyoto kini hanya bisa pasrah di usianya yang senja. Dia sulit berjalan karena kedua kakinya sakit dan tidak bisa digerakkan. Kakek ini hidup sangat jauh dari layak dan tinggal di gubuk mirip kandang ternak. Untuk makan pun dirinya hanya mengandalkan pemberian dari tetangganya.

Susan, salah satu tetangga mengatakan, Mbah Nyoto hidup sebatangkara semenjak istrinya meninggal dunia. Sementara kelumpuhan kaki Mbah Nyoto akibat patah saat dirinya frustasi dan mencoba bunuh diri dengan terjun dari atas tower. Namun Tuhan berkehandak lain. Nyawanya terselamatkan, meski harus mengalami kelumpuhan .
 
Kini Mbah Nyoto tinggal sebatang kara. Untuk menyambung hidup, Mbah Nyoto hanya mengharap belas kasihan para tetangga dan kerabat. Padahal menurut Undang-undang fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. (tur/**)





Berita Terkait

Kakek Jompo Tulungagung Tinggal di Gubuk Tak Layak Huni
Berita Terpopuler
Chamber Of Conference, Hindari Tatap Muka Pegawai Peradilan di Tengah Pandemi Co...selanjutnya
Hukum  11 jam

Ini Pentingnya Ikut Permainan Tradisional Untuk Anak
Konsultasi Psikologi  6 jam

Pesawat Tempur Tergelincir di Lanud Iswahjudi
Peristiwa  12 jam

DPRD Nganjuk Desak Agar Usaha Pok Pok Ilegal Ditutup
Politik  8 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber