Berita Terbaru :
Terpidana Korupsi Panwaslu Kembalikan Uang Rp 151 Juta
Becana Hidrometereologi Sedang Mengacam Jawa Timur
   

Menembus Batas Imajinasi
Opini  Rabu, 28-10-2020 | 21:21 wib
Reporter : Ichwan Arifin
Kongres Pemuda I
Surabaya pojokpitu.com, Saat itu, 28 Oktober 1928 di Gedung Katholikee Jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katholik) Jakarta, berkumpul para pemuda dari beragam organisasi. Dintaranya, Jong Java, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Celebes dan sebagainya. Para pemuda tersebut menggelar pertemuan yang kemudian disebut sebagai kongres pemuda.

Mungkin bagi sebagian besar rakyat, ide menggelar kongres yang mewacanakan kesatuan kebangsaan, diinisiasi oleh Sugondo Djojopuspito, Djoko Marsaid, Mohammad Yamin, Amir Syarifuddin dan para pemuda lainnya ibarat menggantang asap. Perbuatan sia-sia yang tak membuahkan hasil.
 
Betapa tidak, ratusan tahun hidup dalam represi rejim kolonial membuat ide menyatukan seluruh kepulauan nusantara menjadi satu entitas kesatuan politik berdaulat, dapat dianggap gagasan "gila". Tidak hanya oleh pemerintah kolonial, namun juga sebagian masyarakat sendiri. Konsekuensinya berhadapan dengan pemerintah kolonial. Penjara kolonial dan pembuangan ke daerah terpencil sebagai resiko politiknya.
 
Belum lagi ditambah dengan faktor perbedaan latarbelakang, suku, bahasa agama dan ragam perbedaan lainnya yang selalu ditonjolkan pemerintah kolonial. Menawarkan gagasan persatuan dan kebangsaan Indonesia seperti "mission imposible".  Bahkan saat itupun, Indonesia belum menjadi nama kesatuan gugusan kepulauan bekas  koloni-koloni  Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Hindia Timur Belanda (Nederlandsch-Indie) merupakan nama yang disematkan kaum imperialis. Nama yang menegaskan bagian jajahan Negeri Belanda.
 
Namun, visi para pemuda tersebut mampu menembus batas imajinasi dan represi pemerintah kolonial. Berangkat dari kesadaran sebagai anak bangsa yang mengalami penindasan dan laku sejarah yang sama  mampu menembus batas perbedaan yang ada.

Kongres pemuda I dilaksanakan pada 1926. Namun, produk monumental baru dihasilkan kongres II pada 1928. Keputusan kongres tersebut, kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Intinya menegaskan pengakuan sebagai putra-puri Indonesia yang bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia.  Berbangsa satu, Bangsa Indonesia dan berbahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Kongres juga menyerukan azas tersebut disebarluaskan melalui media massa dan wajib dipakai oleh segala organizasi kebangsaan.

Bagi generasi sekarang, hal-hal yang dapat dijadikan pembelajaran dari peristiwa bersejarah tersebut, antara lain: Pertama, visi dan imajinasi tanpa batas mampu membongkar kungkungan mental dan pikiran kerdil, dan pada akhirnya menjadi lokomotif perubahan. Bayangkan jika pemikiran para pemuda saat itu tidak visioner, tentu momentum sumpah pemuda tidak pernah terjadi.  
 
Contoh lainnya, gerakan reformasi yang berhasil memaksa Presiden Soeharto mundur juga tidak akan terjadi jika para pemuda, mahasiswa dan kelompok pro-demokrasi lainnya tidak punya imajinasi tentang tata kelola politik dan kenegaraan yang lebih baik. Menumbangkan rejim Orba merupakan konsekuensi dari implementasi imajinasi tersebut.
 
Saat ini, kita yang hidup tidak dalam era kolonialisme pun harus punya imajinasi tanpa batas. Khususnya terkait dengan perubahan kolektif masyarakat serta aspek lainnya seperti politik, sosial, ekonomi. Tantangan berupa persaingan global-gelombang globalisasi tahap ketiga, perubahan zaman menuju era industri 4.0 merupakan perubahan yang tak mungkin dielakkan . Semua itu perlu direspon dengan sumberdaya manusia yang berkualitas, inovatif dan visioner.  
 
Kedua, kesadaran kolektif tidak datang secara instan. Namun, memerlukan proses dan inisiatif untuk menggerakkannya. Kesadaran kolektif dan pergerakan menentang kolonialisme yang lebih teroganisir, tidak muncul begitu saja pada 1928. Jauh sebelumnya, Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond telah didirikan pada periode 1915-1924. Dalam konteks sekarang, gagasan-gagasan baru, apalagi menyangkut perubahan sosial maka harus ditransformasikan sejak dini dan terus menerus di?suntikkan? pada masyarakat.
 
Ketiga, usia muda adalah fase dimana otak kita dapat dipacu secara maksimal untuk memproduksi gagasan. Jangan sampai fase kemudaan itu terlewat tanpa pernah melahirkan ide dan pemikiran apapun. Bahkan untuk dirinya sendiri. Ide dan gagasanlah yang membuat kita hidup dan punya harapan dan peta masa depan.   
 
Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelorakan peringatan Sumpah Pemuda ke-92 dengan tema "Bersatu dan Bangkit". Meski pemilihan presiden telah usai, potensi konflik antar golongan dalam masyarakat sebagai residu kontestasi politik tersebut masih terasa. Luka sosial itu bahkan terus berlanjut dalam kontestasi jabatan politik yang lain. Karena itu, tema tersebut sangat tepat menjadi "spirit" peringatan sumpah pemuda kali ini. Namun, tema itu hanya akan menjadi slogan jika tidak ada kemampuan mengimplementasikannya.  
 
Terakhir, energi bangsa ini akan terbuang sia-sia manakala selalu dihabiskan untuk berkonflik antar sesama anak bangsa. Hasilnya, perbedaan makin melebar, kebencian makin menggumpal dan seperti pernah diungkap Bung Hatta, bukan persatuan yang terjadi tapi persatean.  
 
Selain itu, jika tidak beranjak dari "zona" tersebut, maka bukan kemajuan yang akan kita capai. Namun justru kemunduran dan lebih parah lagi, mengalami kejumudan peradaban.

Selamat Memperingati Sumpah Pemuda ke-92!
 

Penulis adalah Alumnus Pasca Sarjana Undip, Mantan Ketua GMNI Semarang.



Berita Terkait

Menembus Batas Imajinasi

Peringati Sumpah Pemuda, Pelajar SMK Kampanyekan Kelestarian Batik Enthung

Ormas Kepemudaan Bagikan Nasi Bungkus dan Masker di Hari Sumpah Pemuda

Luncurkan Logo Hari Sumpah Pemuda 2020, Menpora Gelorakan Semangat Bersatu dan Bangkit
Berita Terpopuler
Becana Hidrometereologi Sedang Mengacam Jawa Timur
Politik  2 jam



Cuplikan Berita
Puting Beliung Terjang 2 Desa, Satu Rumah Roboh Puluhan Rusak
Pojok Pitu

Ratusan Anggota Linmas Demo Managemen Perumahan
Pojok Pitu

Pria 35 Tahun yang Lumpuh Mulai Mendapatkan Bantuan
Jatim Awan

Diterjang Angin Kencang, Belasan Rumah Porak Poranda
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber