Berita Terbaru :
Sempat Ditutup Akibat Balapan Truk, Pantai Cemara Kembali Dibuka
Pertahankan Tradisi Gembrungan di Tengah Pandemi
Long Weekend, Puluhan Orang Terjaring Operasi Zebra dan Operasi Yustisi
Traffic Light Padam, Lalu Lintas Simpang Empat Kartonyono Semrawut
Disporapar Gelar Lomba Cipta Masker
Tes Swab Guru SMP Hampir Selesai
Libur Panjang Jasa Penitipan Kucing Laris Manis
Wisata Edukasi Kayu Putih Manyung
Libur Panjang, Kampung Cokelat Terapkan Protokol Kesehatan yang Ketat
Polisi Ciptakan Laporan Kehilangan Via Aplikasi, Cegah Penyebaran Covid19
   

Obesitas Perburuk Infeksi Covid-19, Ikuti 3 Cara Jaga Berat Badan
Kesehatan  Sabtu, 03-10-2020 | 20:10 wib
Reporter :
pojokpitu.com, Masyarakat selama ini mengetahui bahwa komorbid atau penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, hingga paru-paru menahun bisa memperberat infeksi Covid-19. Tapi ternyata, percayakah bahwa obesitas atau kegemukan juga menjadi komorbid atau memperberat pasien Covid-19?

Maka selain tetap menjaga protokol kesehatan dengan 3M yakni Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak, masyarakat juga diminta untuk selalu menjaga berat badan ideal.

Associate Professor Departemen Ilmu Kedokteran Dasar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dr. Gaga Irawan Nugraha dalam talkshow di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini menjelaskan, ketika awal-awal meningkatnya kasus Covid-19, orang tidak mengetahui bahwa obesitas menjadi salah satu faktor risikonya. Dan jika sudah terinfeksi, pasien bertubuh gemuk sering mengalami pemberatan kondisi.

"Setelah Covid-19 masuk ke Amerika, di bulan April dilaporkan bahwa ternyata begitu banyak kematian akibat Covid-19 di AS, terutama di kota New York. Hal itu terjadi karena ternyata banyak orang di New York itu sampai lebih dari 42 persen mengalami obesitas," paparnya.

Menurut dr. Gaga, faktor risiko kedua setelah hipertensi, ternyata adalah obesitas. Kenapa? Karena obesitas memiliki lemak yang lebih besar permukaannya, sehingga reseptor untuk menempelnya virus itu menjadi lebih banyak, lebih luas. Berdasarkan itu, orang obesitas lebih berisiko dan mengalami pemberatan setelah terkena virus korona.

Kedua, kata dr. Gaga, orang obesitas lemaknya ada di mana-mana. Lemak di jantungnya lebih banyak lemak kiri-kanan-depan-belakangnya, begitu juga dengan di perutnya.

"Sehingga, ketika terinfeksi Covid-19, dan kemudian dia sulit bernapas, kesulitan bernapasnya bertambah, restriksi parunya menjadi semakin kecil, karena kiri-kanan-depan-belakang, termasuk jantungnya, tertekan oleh lemak," tegasnya.

Ketiga, orang yang obesitas akan mengalami kelainan imunitas yang menyebabkan dia lebih mudah parah. Lalu bagaimana bagi mereka yang sudah kegemukan?

"Orang obesitas itu sebagian besar karena gaya hidup, karena gaya hidup yang salah. Itu yang harus diperbaiki," katanya.

1. Makan Secukupnya

Pola makan adalah paling penting. Kalau orang obesitas, berarti dia mengonsumsi makanan yang lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuhnya. Jadi orang obesitas mengonsumsi makanan yang sebetulnya tidak diperlukan oleh tubuhnya, atau bisa dibilang mengonsumsi "sampah".

"Itu yang harus dihindari. Yang lebihnya itu yang harus dihindari oleh orang obesitas," tegasnya.

2. Batasi Karbo

Kemudian berdasarkan riset, kata dia, ternyata yang paling cepat meningkatkan berat badan, terutama untuk orang Indonesia nomor satu adalah karbohidrat sederhana. Yakni nasi, mi, tepung lainnya. Makanan yang mengandung karbohidrat sederhana, yaitu makanan yang terbuat dari tepung, baik tepung terigu, kanji, ataupun tepung beras.

"Dan kita tahu semua, bahwa semua camilan sekarang ini terbuat dari tepung terigu. Gula dan tepung terigu itulah yang paling banyak meningkatkan gula darah, memudahkan obesitas. Jadi yang paling harus dihindari adalah gula dan tepung untuk orang yang obesitas," tegasnya.

Diet sehat bisa memilih karbo pengganti seperti umbi-umbuan atau beras merah. Terutama untuk mereka yang memang sudah obesitas atau gula darah tinggi.

3. Batasi Makanan dan Minuman Manis

Agar berat badan stabil dan gula darah tetap stabil, masyarakat harus membatasi makanan dan minuman manis. Baik gula dalam bentuk makanan, makanan-makanan yang manis, permen, cokelat, pastry yang mengandung gula.

"Hindari gula, kecuali di bumbu saja. Kalau masak ada gulanya, boleh. Tetapi makanan yang manis, hindari," tegasnya.

Lalu hindari gula di minuman. Softdrink, teh manis, kopi manis, yang mengandung gula, hindari.


Berita Terkait

Obesitas Perburuk Infeksi Covid-19, Ikuti 3 Cara Jaga Berat Badan

Masih Menjadi Ancaman, 1 Dari 4 Orang Indonesia Obesitas

Berita Duka, Yunita Gadis Obesitas Akhirnya Meninggal Dunia

Gawat, Gadis Obesitas Kembali Dirawat di RSUD Sidoarjo
Berita Terpopuler
Polisi Ciptakan Laporan Kehilangan Via Aplikasi, Cegah Penyebaran Covid19
Teknologi  9 jam

Libur Panjang, Kampung Cokelat Terapkan Protokol Kesehatan yang Ketat
Mlaku - Mlaku  8 jam

Wisata Edukasi Kayu Putih Manyung
Mlaku - Mlaku  7 jam

Libur Panjang Jasa Penitipan Kucing Laris Manis
Peristiwa  6 jam



Cuplikan Berita
Kebakaran Pemukiman Padat Penduduk, Dua Rumah Petak Ludes Terbakar
Pojok Pitu

Diduga Korsleting Listrik, Dua Kafe di Area Alon-Alon Kota Terbakar
Pojok Pitu

Terjatuh Dari Motor Curiannya, Pelaku Babak Belur Dimassa
Jatim Awan

Banjir Lahar Ganggu Aktivitas Warga dan Penambang
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber