Berita Terbaru :
Terbakar Cemburu, Sales Hajar Pacar Yang Sudah Ditiduri
Mabuk Berat, Geng Pengamen Keroyok dan Tusuk Temannya Hingga Tewas
Cabup Ony Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Hutan
GM Jaman Laporkan Paslon 01 Ke Bawaslu, Karena Melibatkan Anak - Anak Dalam Kampanye
Sekelompok Pemuda Probolinggo Sediakan Barang Gratis di Tengah Pandemi Covid 19
Menduda 5 Tahun, Bapak Cabuli Anak Kandung 6 Kali
2 Residivis Curanmor Bercelurit Ditembak Polisi
Tindak Lanjut Operasi Zebra, Tarik Semua Surat Tilang Diganti Dengan Masker
Batasi Personal Yang Hadir dalam Debat Pilkada, Kabupaten Malang Terapkan Prokes
Truk Terjebak Banjir Lahar Gunung Semeru
KPU Surabaya Segera Gelar Debat Publlik Pada 4 November
Banyaknya Kendaraan Pribadi, Trayek Pedesaan Hampir Punah
Kokedama, Inovasi Serabut Kelapa Jadi Media Tanaman Hias
Eksotisme Goa Ngerong yang Dihuni Ribuan Ikan dan Kelelawar
Sarung Kain Batik Tulis Jetis Sidoarjo Ramai Dipesan
   

Kisah 33 Tahun Pemetik Buah Siwalan, Penghasil Minuman Legen
Sosok  Minggu, 20-09-2020 | 21:15 wib
Reporter : Fakhrurrozi
Lamongan pojokpitu.com, Minuman legen atau tuak yang dihasilkan dari buah lontar atau siwalan tumbuh subur di pesisir pantau utara jawa, seperti Tuban dan Lamongan. Minuman ini banyak disuka karena rasanya yang khas dan bisa menambah semangat.

Namun tak banyak yang tahu bila untuk mendapatkan segelas minuman legen ini, pemetik buah harus memanjat pohon siwalan setinggi 15 meter, tanpa bantuan alat pengaman.

Hari masih pagi jarum jam masih menunjukkan angka 6, namun pria ini bernama Turkhamun ini sudah bersiap di perkebunan pohon siwalan di Desa Paciran, Kecamatan Paciran Lamongan. Hanya berbekal pisau dan sebuah bumbung bambu yang disebut centak, Turkhamun sudah menuju pohon siwalan yang hendak dipanjat.

Meski tanpa bantuan alat pengaman, pria berusia 55 tahun ini begitu mudah memanjat pohon siwalan setinggi 15 meter. Ternyata bagi Turkhamun, kebiasaan ini sudah dia tekuni selama 33 tahun. Meski tanpa pengaman, Turkhamun tak pernah sekalipun jatuh dari pohon.

Begitu berada di atas pohon, Turkhamun mengambil sari atau tetesan buah siwalan yang disebut legen. Setiap hari, Turkhamun hanya bisa mendapatkan 24 centak yang dijual 10 ribu rupiah per botolnya. Dengan hasil ini, maka turkhamun bisa mendapatkan 240 ribu rupiah.

Turkhamun merasa bersyukur, penghasilan 240 riburupuah ini sudah cukup untuk menghidupi 4 anaknya. Usai diambil dari pohon, legen ini lalu dijual di sepanjang tepi jalan Surabaya-Lamongan-Tuban. Untuk legen yang tak laku difermentasi menjadi tuak yang bisa memabukkan.

Tak hanya mengambil sari buah untuk minuman legen dan tuak, Turkhamun juga memetik buah siwalan. Kali ini, Turkhamun membawa tali yang digunakan untuk menurunkan buah siwalan dari atas pohon.

10 biji buah siwalan ini dijual dengan harga 10 ribu rupiah, meski bahagia dengan pekerjaannya, namun Turkhamun merasa sedih lantaran tak ada yang akan meneruskan keahliannya sebagai pemetik sari buah siwalan. (yos)


Berita Terkait

Nikmatnya Kuliner Legendaris Sate dan Becek Menthok

Kisah 33 Tahun Pemetik Buah Siwalan, Penghasil Minuman Legen

Berburu Legen Asli Untuk Buka Puasa

Kecantikan Legenda Indonesia Dalam Kebaya dan Make Up
Berita Terpopuler
Sekelompok Pemuda Probolinggo Sediakan Barang Gratis di Tengah Pandemi Covid 19
Peristiwa  3 jam

Rayakan Maulid Nabi Muhammad Saw, Pengemudi Ojol di Tulungagung Pasang Tarif Sei...selanjutnya
Sosok  13 jam

Banyak Pelanggar, Polisi Edukasi Pelanggar Dengan Diberi Masker dan Helm
Peristiwa  15 jam

Kokedama, Inovasi Serabut Kelapa Jadi Media Tanaman Hias
Life Style  9 jam



Cuplikan Berita
Kapal Motor Muatan Solar Terbakar di Dermaga Pulau Gili Ketapang
Pojok Pitu

Jalan Penghubung Antar Kecamatan Longsor, Kendaraan Roda 4 Tidak Bisa Melintas
Pojok Pitu

Truk Penambang Pasir Terseret Banjir Lahar Semeru
Jatim Awan

Terjatuh Dari Motor Curiannya, Pelaku Babak Belur Dimassa
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber