Berita Terbaru :
Volkswagen Dapat Untung dari Pembeli Mobil Mewah
Jokowi Kecam Keras Presiden Prancis Emmanuel Macron
   

Penyalahgunaan Lahan Sebabkan Kekeringan Berulang di Jatim
Metropolis  Kamis, 17-09-2020 | 06:24 wib
Reporter : Atiqoh Hasan
Surabaya pojokpitu.com, Musim kemarau telah tiba. Bencana kekeringan kembali melanda 31 kabupaten di Jawa Timur. Pakar Kebencanaan ITS menyebut, penyalahgunaan fungsi lahan membuat kekeringan berulang terjadi di Jatim sehingga perlu penanganan serius, agar saat musim kemarau tidak terjadi kekeringan di seluruh kabupaten / kota di Jatim.

Penyalahgunaan fungsi lahan kerap ditemukan di dataran tinggi di Jatim. Salah satunya di lereng Gunung Penanggungan Mojokerto. Tidak hanya sebagai permukiman warga, pengembangan tempat wisata, dan alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian, turut menyumbang terjadinya bencana kekeringan saat musim kemarau tiba, atau justru banjir saat musim penghujan datang. Hal ini menunjukkan adanya salah kelola lahan hutan di Jatim.

Secara mendasar, kekeringan dipicu oleh penyalahgunaan lahan yang dapat merusak ekosistem dan fungsi lahan. Namun tidak bisa dipungkiri, jenis tanah berkapur yang memiliki sifat tidak bisa menyerap air juga bisa dikategorikan sebagai penyebab kekeringan. Akibat kedua hal itu, air hujan yang seharusnya diserap tidak bisa terserap, namun justru mengalir ke daerah yang lebih rendah, mengakibatkan banjir.

Pemprov Jatim menyebut, kekeringan bisa diantisipasi dengan rencana jangka pendek membuat embung, yang berfungsi sebagai tempat penampungan air saat musim hujan tiba. Air tersebut baru digunakan saat musim kemarau, guna mengantisipasi kelangkaan air akibat kekeringan.

Namun Pakar Kebencanaan ITS Amien Widodo menyoroti, penggunaan embung akan menjadi sia-sia jika wilayah hutan yang lebih tinggi tidak dilakukan reboisasi terlebih dahulu.

Pasalnya, embung yang dibangun di daerah yang lebih rendah rentan terisi sedimen tanah, lantaran air hujan kerap membawa tanah, menyebabkan pendangkalan pada embung. Air embung menjadi tidak bisa digunakan. Seperti yang terjadi pada waduk gajah mungkur.

Reboisasi atau penghijauan kembali tidak bisa tidak dilakukan jika menginginkan jatim menjadi lebih minim bencana kekeringan saat kemarau, atau banjir saat musim penghujan tiba. Penggunaan embung saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan reboisasi,agar penyerapan air hujan lebih maksimal.

Penanaman stek dan bibit bisa segera dilakukan menjelang musim penghujan di wilayah hutan yang lebih tinggi. Sedangkan pembangunan embung, dilakukan bertahap setelah stek dan bibit selesai ditanam. Dengan begitu air hujan bisa diserap dengan baik, dan air yang ditampung di embung bisa lebih jernih karena tidak membawa material tanah.

Di sisi lain, rencana penggunaan sumur bor untuk mencari sumber air saat musim kemarau pun harus melewati berbagai kajian geofisika untuk menentukan kedalaman tanah yang sesuai.(end)



Berita Terkait

Bencana Kekeringan Belum Bisa Diatasi, Terutama Daerah Kering Kritis

Penyalahgunaan Lahan Sebabkan Kekeringan Berulang di Jatim

Cegah Kekeringan Massal, Ratusan Petani Bersihkan Wallet Sungai Tanggul

Selama Bencana Kekeringan, Warga Rawan Rebutan Air
Berita Terpopuler
Jokowi Kecam Keras Presiden Prancis Emmanuel Macron
Peristiwa  1 jam

Volkswagen Dapat Untung dari Pembeli Mobil Mewah
Otomotif  25 menit



Cuplikan Berita
Kapal Motor Muatan Solar Terbakar di Dermaga Pulau Gili Ketapang
Pojok Pitu

Jalan Penghubung Antar Kecamatan Longsor, Kendaraan Roda 4 Tidak Bisa Melintas
Pojok Pitu

Truk Penambang Pasir Terseret Banjir Lahar Semeru
Jatim Awan

Terjatuh Dari Motor Curiannya, Pelaku Babak Belur Dimassa
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber