Berita Terbaru :
   

Langgar Gipo Siap Menjadi Destinasi Kota Lama Surabaya
Opini  Sabtu, 18-07-2020 | 17:06 wib
Reporter : Nanang Purwono
Kolaborasi antara Pemkot Surabaya dan Komunitas Pegiat Sejarah melihat infrastruktur water front Kalimas di ruas Kampung Baru.
Surabaya pojokpitu.com, Dalam beberapa minggu terakhir, Langgar Gipo (Sagipoddin) di jalan Kalimas Udik I/51 Surabaya menjadi perhatian publik. Langgar yang awalnya kusam, kotor dan tidak dipakai ini kini semakin bertambah terang, bersih dan mulai digunakan sebagai kegiatan keagamaan. Ini lantaran peran komunitas pegiat sejarah yang secara swadaya dan bergotong royong memperbaiki langgar tersebut.

Langgar Gipo tidak lain adalah langgar keluarga besar Sagipoddin, yang dalam beberapa puluh tahun belakangan tidak digunakan dan akhirnya menjadi rusak dan kusam. Dari sebagian keturunan Sagipoddin, yang masih punya peduli terhadap nilai dan sejarah bangunan langgar, bangunan langgar ini mulai dibersihkan dan perlahan-lahan diperbaiki.

Bersama dengan komunitas pegiat sejarah Surabaya lainnya, dalam beberapa minggu terakhir, Langgar Gipo sudah terlihat menjelma menjadi lebih bersih, terang dan mulai digunakan sebagaimana fungsinya. Atas perhatian yang luar biasa dari komunitas itulah, Pemerintah kota Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) mengapresiasinya dengan mengunjungi langgar yang terletak di kawasan kota lama Surabaya itu.

Kepala Dispursip, Musdiq Ali Suhudi, yang hadir dalam kunjungan itu menilai bahwa langgar Gipo ini layak dilestarikan, yang selanjutnya layak ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya.  Menurutnya, langgar Gipo seperti halnya bangunan-bangunan ibadah lainnya di Surabaya (Masjid Ampel, Masjid Kemayoran dan bahkan Gereja Katedral Kepanjen) adalah jenis bangunan yang memiliki fungsi sama dari masa ke masa. Dulu sebagai tempat ibadah, kini masih menjadi tempat ibadah dan ke depan juga akan tetap menjadi tempat ibadah.

Berbeda dengan bangunan lainnya seperti gedung Balai Pemuda, yang bisa jadi berubah-ubah fungsi. Dulu sebagai tempat hiburan, kini sebagai kantor sebuah UPTD dan ke masa depan, kita belum tau akan difungsikan sebagai apa. Langgar Gipo secara fisik arsitektural memiliki bentuk dan design bangunan yang khas dan karena itu langgar ini bisa menjadi obyek edukasi dan penelitian arsitektur dan sipil.

Secara fungsi, langgar ini pernah menjadi sentra pergerakan kebangsaan, termasuk keagamaan di jaman kolonial. Apalagi dari tempat ini muncul nama-nama besar seperti K.H Mas Mansyur. Langgar Gipo, yang terletak di jalan Kalimas Udik I/51, bisa menjadi sebuah mercusuar untuk pengembangan kawasan kota lama Surabaya. Langgar ini tidak jauh dari komplek Masjid Ampel dan masjid masjid tua lainnya di kawasan Kampung Arab. Jalan Kalimas Udik I adalah jalan yang berbadan lebar yang di kiri kanannya berdiri gedung gedung besar mulai dari rumah hingga pergudangan. Hingga sekarang raut wajah kebesaran masa lalu itu masih sangat kentara dan sangat sayang jika ditinggalkan dan tidak terawat. 

Dalam rangka pengembangan kawasan kota lama, khususnya di sekitar Kampung Melayu dan Kampung Arab, Langgar Gipo bisa menjadi sebuah mercusuar untuk ruas jalan Kalimas Udik, yang selanjutnya terkoneksi dengan jalan Panggung (Kampung Melayu) yang sudah ditata menjadi jalur wisata yang layak dikunjungi. Selanjutnya, jalan Kalimas Udik I bisa dikoneksikan dengan water front area di Kampung Baru, Kalimas Timur yang dikenal dengan sebuah menara pandang/kesyahbandaran sungai yang eksotik. Dari Kampung Baru ini lantas terkoneksi dengan jalan Gambir yang sudah ditata sebagaimana jalan Panggung.  

Dengan demikian jalan Panggung, terkoneksi dengan jalan Kalimas Udik I, lalu menyambung dengan kawasan Water Front Kampung Baru dan jalan Gambir. Menurut Ketua Pokdarwis Kampung Wisata Ampel, yang juga pegiat sejarah dari Ampel Heritage Surabaya, Moh Khotib, koneksi jalan Panggung-Kalimas Udik I dan Water Front Kampung Baru ini sudah menjadi angan angan lama dalam rangka pengembangan kawasan kota lama Surabaya.

Dengan hadirnya Langgar Gipo, yang secara swadaya dibersihkan dan diperbaiki oleh sekelompok komunitas, tidak ada alasan untuk mempercepat kawasan kota lama sisi Kampung Melayu dan Kampung Arab menjadi kawasan wisata yang bisa berorientasi ekonomi. Sentra penjualan ikan segar di pasar Pabean bisa menjadi sumber bahan baku wisata kuliner yang layak dikembangkan di kawasan Water Front Kampung Baru. 

"Water Front-nya Surabaya ini yang di kawasan utara seperti di Kampung Baru", demikian kata Musdiq Ali Suhudi ketika bersama rombongan melihat infrastruktur kuno di kawasan Kampung Baru. Ia menambahkan bahwa untuk menghidupkan kawasan water front Kalimas di ruas Kampung Baru, semua stakeholder terkait harus berpartisipasi.

Selain pemerintah kota yang akan andil dalam menata sungai, pihak swasta seperti pengelola Jembatan Merah Plaza juga diharapkan turut menata tampilan fasad gedungnya agar menyatu dengan water front Kalimas. Apalagi jika sungai Kalimasnya sendiri akan dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi. 

Menurut sumber dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, pemerintah kota Surabaya sudah merencanakan untuk melanjutkan pembenahan dan penataan kawasan kota lama, khususnya yang terkait dengan Kalimas pada tahun 2021. Tahun 2020, konsentrasi kegiatan lebih difokuskan ke penanganan Covid 19. Atas hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, selanjutnya pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak pihak terkait seperti Dinas Pariwisata, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) serta Bappeko Surabaya.(end)

Berita Terkait

Langgar Gipo Siap Menjadi Destinasi Kota Lama Surabaya
Berita Terpopuler


Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber